TERIMA KASIH DAH SUDI MAMPIR KE LAPAK BUTUT REYOT NAN SEDERHANA INI

Mau Tukar Link? Copy/paste code HTML berikut ke blog anda.

Follow by Email

Kategori || Label


Pages

Jumat, 01 Juli 2011

Cermin Orang Tua

Suatu ketika di sebuah sekolah, diadakan pementasan drama. Pentas drama yang meriah, dengan pemain yang semuanya siswa-siswi disana. Setiap anak mendapat peran, dan memakai kostum sesuai dengan tokoh yang diperankannya.
Semuanya tampak serius, sebab Pak Guru akan memberikan hadiah kepada anak yang tampil terbaik dalam pentas. Sementara di depan panggung, semua orangtua murid ikut hadir dan menyemarakkan acara itu.
Lakon drama berjalan dengan sempurna. Semua anak tampil dengan maksimal.Ada yang berperan sebagai petani, lengkap dengan cangkul dan topinya, ada juga yang menjadi nelayan, dengan jala yang disampirkan di bahu. Di sudut sana, tampak pula seorang anak dengan raut muka ketus, sebab dia kebagian peran pak tua yang pemarah, sementara di sudut lain, terlihat anak dengan wajah sedih, layaknya pemurung yang selalu menangis. Tepuk tangan dari para orangtua dan guru kerap terdengar, di sisi kiri dan kanan panggung.Tibalah kini akhir dari pementasan drama. Dan itu berarti, sudah saatnya Pak Guru mengumumkan siapa yang berhak mendapat hadiah. Setiap anak tampak berdebar dalam hati, berharap mereka terpilih menjadi pemain drama yang terbaik. Dalam komat-kamit mereka berdoa, supaya Pak Guru menyebutkan nama mereka, dan mengundang ke atas panggung untuk menerima hadiah. Para orangtua
pun ikut berdoa, membayangkan anak mereka menjadi yang terbaik.

Pak Guru telah menaiki panggung, dan tak lama kemudian ia menyebutkan sebuah nama. Ahha...ternyata, anak yang menjadi pak tua pemarah lah yang menjadi juara. Dengan wajah berbinar, sang anak bersorak gembira. "Aku menang...", begitu ucapnya. Ia pun bergegas menuju panggung, diiringi kedua orangtuanya yang tampak bangga.Tepuk tangan terdengar lagi. Sang orangtua menatap sekeliling, menatap ke seluruh hadirin. Mereka bangga.Pak Guru menyambut mereka. Sebelum menyerahkan hadiah, ia sedikit bertanya kepada sang "jagoan, "Nak, kamu memang hebat. Kamu pantas mendapatkannya. Peranmu sebagai seorang yang pemarah terlihat bagus sekali. Apa rahasianya ya, sehingga kamu bisa tampil sebaik ini? Kamu pasti rajin mengikuti latihan, tak heran jika kamu terpilih menjadi yang terbaik.." tanya Pak Guru, "Coba kamu ceritakan kepada kami semua, apa yang bisa membuat kamu seperti ini..".
Sang anak menjawab, "Terima kasih atas hadiahnya Pak. Dan sebenarnya saya harus berterima kasih kepada Ayah saya dirumah. Karena, dari Ayah lah saya belajar berteriak dan menjadi pemarah. Kepada Ayah lah saya meniru perilaku ini. Ayah sering berteriak kepada saya, maka, bukan hal yang sulit untuk menjadi pemarah seperti Ayah." Tampak sang Ayah yang mulai tercenung. Sang anak mulai melanjutkan, "Ayah membesarkan saya dengan cara seperti ini,jadi peran ini, adalah peran yang mudah buat saya..." Senyap. Usai bibir anak itu terkatup, keadaan tambah senyap. Begitupun kedua orangtua sang anak di atas panggung, mereka tampak tertunduk. Jika sebelumnnya mereka merasa bangga, kini keadaannya berubah. Seakan,
mereka berdiri sebagai terdakwa, di muka pengadilan. Mereka belajar sesuatu hari itu. Ada yang perlu diluruskan dalam perilaku mereka.

Temanku, setiap anak, adalah duplikat dari orang di sekitarnya. Setiap anak adalah peniru, dan mereka belajar untuk menjadi salah satu dari kita. Mereka akan belajar untuk menjadikan kita sebagai contoh, sebagai panutan dalam bertindak dan berperilaku. Mereka juga akan hadir sebagai sosok-sosok cermin bagi kita,tempat kita bisa berkaca pada semua hal yang kita lakukan. Mereka laksana air telaga yang merefleksikan bayangan kita saat kita menatap dalam hamparan perilaku yang mereka perbuat.
Namun sayang, cermin itu meniru pada semua hal. Baik, buruk, terpuji ataupun tercela, di munculkan dengan sangat nyata bagi kita yang berkaca. Cermin itu juga menjadi bayangan apapun yang ada di depannya. Telaga itu adalah juga pancaran sejati terhadap setiap benda di depannya. Kita tentu tak bisa, memecahkan cermin atau mengoyak ketenangan telaga itu, saat melihat gambaran yang buruk Sebab,bukankah itu sama artinya dengan menuding diri kita sendiri?
Temanku, saya ingin berpesan kepada kita semua, "berteriaklah kepada anak-anak kita saat kita marah, maka, kita akan membesarkan seorang pemarah.
Bermuka ketuslah kepada mereka saat kita marah, maka kita akan membesarkan seorang pembenci, dan biarkanlah mulut dan tangan kita yang bekerja saat kita marah, maka kita akan belajar menciptakan seorang yang penuh dengki..."
Peran apakah yang sedang kita ajarkan kepada anak-anak kita saat ini? Contoh apakah yang sedang kita berikan kali ini? Dan panutan apakah yang sedang kita tampilkan?
Temanku, percayalah, mereka akan selalu belajar dari kita, dari orang yang terdekatnya, dari orang yang mencintainya. Merekalah lingkaran terdekat kita, tempat mereka belajar, menerima kasih sayang, dan juga tempat mereka meniru dalam berperilaku.

Saya berharap, bisa menjadi orang yang sabar saat melihat seorang anak menumpahkan air di gelas yang mereka pegang. Saya berharap menjadi orang yang ikhlas, saat melihat mereka memecahkan piring makan mereka sendiri.
Sebab, bukankah mereka baru "belajar" memegang gelas dan piring itu selama 3 tahun, sedangkan kita telah mengenalnya sejak lebih 20 tahun?
Tentu mereka akan butuh waktu untuk bisa seperti kita.....betulkan?
Dulu saya pernah menjadi seorang anak,dan sekarang menjadi orang tua sedang saya jalani,curhat abi ini mudah2an bukan hanya untuk para orang tua semata,tapi yang belum menjadi orang tua sekalipun,percayalah...suatu saat nanti anda akan menjadi orang tua,cepat atau lambat..masih jauuuuuuuuh ataupun sudah dekat.jadi tak ada salahnya kan jika kita belajar sesuatu yang baik mulai dari sekarang.
Sekedar renungan untuk menciptakan regenerasi yang lebih baik...Amin.
Abi...Umi...ternyata sungguh sulit menjadi kalian.

Komentar :

ada 2 komentar ke “Cermin Orang Tua”
Cerita dan Ilmu mengatakan...
pada hari 

saya jadi ingat sama puisi yang dibacakan istri saya saat putra pertama saya lahir:

Langkah - langkah kaki

sungguh aku harus berhati-hati,sebab ada teman kecil yang selalu mengikutiku.
tak sekalipun aku berani sembarang melangkah, agar dia tidak ikut ke jalur yang salah.
tak sekalipun aku dapat menghindar dari pandangannya.
apapun yang dilihatnya aku perbuat, dia selalu ingin mencobanya.
kelak dia ingin seperti aku...kata anak yang terus mengikuti aku.
sambil melangkah aku harus selalu ingat, tak peduli musim panas atau musim hujan, aku sedang menciptakan masa depan bagi dia yang terus mengikuti aku

AntonAbiHandsome mengatakan...
pada hari 

@ cerita dan ilmu : wah keren puisinya gan...istrinya pinter,salut saya...

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Diberdayakan oleh Blogger.

Followers

BUKU TAMU


ShoutMix chat widget